oleh

Ruma Sakit Fatima Curang?

Kosongsatunews.com, Parepare – Terjadinya korelasi ketidak sesuaian pandangan antar kelurga pasien dengan pihak Rumah Sakit Fatima (RSF) Kota Parepare, Sulsel. soal pembayaran yang ditengarai mencekik, serta menyimpan dari acuan ketentuan, tentu saja Pak Ashari, kelurga pasien menyebut ada kecurangan di RSF.

Kejadian yang menimpa keluarganya saat di rawat merupakan ada indikasi pembodohan terhadap pasien di RSF tersebut. Kontradiksi ini menyulut terbongkarnya tarif yang mahal tanpa perincian tentang peruntukan harga sebenarnya.

Terusterang saya sangat kecewa terhadap tarif yang tidak mendasar, padahal prihal itu saya banyak tau, lalu bagaimana tentang masyarakat awam, ini harus diluruskan agar tidak terjadi lagi pembodohan,” ungkap Ashari suami pasien rosmaladewi
dengan kecewa.

Ashari kesal dengan perlakuan pembayaran di RSF

Kemudian ditambahkan dalam “Black Law Dictionary” menyebutkan bahwa fraud adalah kesengajaan melakukan kesalahan terhadap kebenaran untuk tujuan mendapatkan sesuatu yg bernilai atas kerugian orang lain atau mendapatkan dengan membelokkan hukum atau kesalahan representase suatu fakta, baik dengan kata maupun tindakan.

Aktifis, Mustaman ini juga turut curiga atas perlakuan pembayaran saat mendampingi Ashari, ketika klarifikasi di RSF

Fraud dalam bidang kesehatan adalah segala bentuk kecurangan dan ketidakwajaran yang dilakukan berbagai pihak dalam mata rantai pelayanan kesehatan untuk memperoleh keuntungan sendiri yang jauh melampaui keuntungan yang diperolah dari praktik normal.

salah satu praktik potensi kecurangan yang dapat dilakukan oleh PPK (Pemberi Pelayanan Kesehatan) adalah “upcoding” dalam hal pembayaran selisih biaya perawatan.

hal ini di alami oleh salah satu peserta JKN yang mendapatkan pelayanan kesehatan rawat inap di salah satu rs swasta ternama di kota parepare yaitu RSF Parepare.

hal ini dialami oleh pasien peserta JKN yang masuk dengan kondisi muntah2 dan sempat tidak sadarkan diri di IGD RSF (yang sebelumnya 5 hari telah dirawat inap dengan penyakit tipes di makassar). pasien masuk IGD hari rabu malam sekitar pukul 20.00 wita tgl 6 februari 2019 dan diberikan tindakan pemasangan infus dan obat oral untuk penanganan muntah pasien, pasien menempati VIP (satu tingkat di atas hak kelas pasien dan telah disampaikan bahwa pembayaran selisih 70% dari tarif INA-CBGs kelas 1). Hari kamis tgl 7 Februari 2019 dilakukan visite dokter interna dan pemeriksaan darah, urine dan EKG atas instruksi dokter.
selanjutnya hari Jumat tgl 08 Februari 2019 pukul 09.00 pagi, atas instruksi dokter setelah visite pasien sdh diijinkan pulang oleh dokter dengan alasan kondisi pasien sudah membaik.
selanjutnya perawat menyampaikan bahwa pasien dirawat dengan kondisi Dispepsia (nyeri ulu hati).
“Pembodohan” dan tidak adanya transparansi oleh RSF dialami oleh keluarga pasien saat akan melakukan pembayaran atas selisih biaya perawatan dari hak kelas 1 ke VIP.
bagaimana tidak, keluarga pasien hanya disodorkan selembar kertas yang berisi besaran nominal pembayaran tanpa diberikan rincian dan penjelasan atas selisih pembayaran tersebut.
karena keluarga pasien merasa adanya tindakan yang mengarah kepada indikasi ketidakwajaran dalam penetapan kodifikasi INA-CBGs yang berpengaruh terhadap besaran biaya selisih yang dibayarkan oleh keluarga pasien.
Seharusnya kondisi sesuai tindakan yang paling banyak diberikan kepada pasien adalah kondisi Dispepsia, namun kodifikasi yang diberikan adalah Thypoid yang notabene merupakan kondisi yang sdh dialami sebelumnya oleh pasien dan lebih sedikit mendapatkan penanganan, kalaupun kemudian thypoid menjadi kondisi akhir yang dialami oleh pasien berdasarkan hasil lab, kenapa kemudian pasien diijinkan pulang oleh dokter dengan kondisi membaik. Apakah penatalaksanaan penyakit tipes dapat selesai dan membaik dalam waktu 1 hari.
Kondisi ini sebenarnya dilakukan karena adanya indikasi untuk memperoleh nilai pembayaran yang lebih besar.
pihak keluarga telah melakukan upaya konfirmasi baik kepada pihak BPJS Kesehatan Cabang Parepare dan pihak manajemen RSF Parepare, namun pihak RS tetap bersikukuh telah melakukan seauai dengan ketentuan.

kondisi di atas sesungguhnya memberitahukan kepada kita masyarakat secara umum, bahwa PPK tidak transparan dalam menjalankan pelayanan kesehatan program JKN ini, terlebih pada masyarakat/peserta JKN yang tidak tahu menahu tentu akan menerima saja apa yg diberikan oleh pihak rumah sakit.
kita semua berkewajiban mengawal program JKN ini sehingga dapat berjalan baik tanpa adanya tindakan-tindakan yang merugikan masyarakat.

Direktur RSF yang ingin di konfirmasi tidak ada di tempat, Jelas salahsatu stafnya sambil berlalu. (Ag)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed