Inovasi Sirkular ala UMS Rappang: Dari Tangan Dingin Bahtiar Herman, Sampah Jadi Peluang Bisnis UMKM

KOSONGSATUNEWS.COM, SIDRAP, — Di tengah isu lingkungan yang kian mendesak, konsep ekonomi sirkular tidak lagi sekadar wacana, melainkan sebuah peluang bisnis yang nyata dan menguntungkan. Berbeda dengan model ekonomi linier yang hanya fokus pada “ambil-buat-buang,” ekonomi sirkular menawarkan pendekatan cerdas: mengubah limbah menjadi sumber daya bernilai ekonomi.

Prinsip ini tidak hanya relevan untuk perusahaan besar, tetapi justru menjadi kunci inovasi bagi banyak Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di seluruh penjuru Indonesia.

Mereka membuktikan bahwa dengan kreativitas dan visi, sampah yang sering dianggap masalah justru bisa menjadi berkah.

Salah satu contoh inspiratif datang dari sebuah UMKM di Indonesia bagian barat yang berhasil menyulap limbah plastik menjadi tas jinjing dan dompet modis.

Dengan menggandeng para pemulung lokal, mereka menciptakan rantai pasok yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memberdayakan komunitas. Prosesnya dimulai dari pengumpulan, pemilahan, hingga pengolahan kembali limbah plastik menjadi lembaran bahan yang kokoh dan artistik.

Hasilnya, produk mereka tidak hanya diminati pasar lokal, tetapi juga berhasil menembus pasar internasional, menunjukkan bahwa produk ramah lingkungan memiliki daya tarik global yang kuat.

Penerapan ekonomi sirkular ini juga ditemukan dalam sektor lain, seperti pengelolaan limbah organik. Sebuah UMKM di Indonesia bagian timur sukses mengolah sisa makanan dari restoran dan pasar menjadi pupuk kompos berkualitas tinggi.

Mereka tidak hanya mengurangi tumpukan sampah di TPA, tetapi juga membantu petani dan pemilik kebun mendapatkan nutrisi tanah alami.

Model bisnis ini menciptakan simbiosis mutualisme, di mana satu pihak menyelesaikan masalah limbah, sementara pihak lain mendapatkan manfaat dari produk olahannya.

Ini membuktikan bahwa inovasi bisnis tidak harus rumit; terkadang, solusi terbaik justru berasal dari masalah sehari-hari yang sering kita abaikan.

Menurut Bahtiar Herman, S.E., M.M., seorang dosen di Program Studi Kewirausahaan, ekonomi sirkular adalah landasan masa depan bisnis.

“Ini bukan sekadar tren, melainkan sebuah paradigma baru yang mengajarkan kita bahwa bisnis yang berkelanjutan tidak hanya tentang mencari keuntungan finansial, tetapi juga tentang menciptakan nilai jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan,” ujarnya pada Jumat, 29 Agustus 2025

Beliau menambahkan bahwa mahasiswa didorong untuk berpikir kreatif: bagaimana sisa-sisa material bisa diubah menjadi produk baru? Bagaimana produk bisa dirancang agar mudah diperbaiki, dibongkar, atau didaur ulang? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi titik awal untuk menciptakan startup yang tidak hanya inovatif, tetapi juga bertanggung jawab.

Transisi menuju ekonomi sirkular membutuhkan kolaborasi dari semua pihak. Masyarakat perlu lebih sadar untuk memilah sampah dan memilih produk ramah lingkungan. Pemerintah bisa mendukung dengan kebijakan insentif dan regulasi yang mempermudah UMKM sirkular.

Namun, kunci utamanya tetap ada pada para wirausahawan muda yang berani melihat peluang di tengah tantangan. Mereka adalah agen perubahan yang akan memimpin kita menuju masa depan bisnis yang lebih hijau, adil, dan sejahtera. Kisah-kisah sukses ini hanyalah awal, dan masih banyak lagi potensi yang bisa digali dari setiap tumpukan sampah di sekitar kita. (MDS)

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *