oleh

Lagi, SMAN 1 Majene Torehkan Prestasi Dikancah Nasional

KOSONGSATUNEWS.COM–Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengadakan Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Ke-52 tahun 2020 dari tanggal 16-19 November 2020 yang diikuti perwakilan dari SMAN 1 Majene secara daring membuahkan hasil.

SMA Negeri 1 Majene berhasil meraih juara 2 pada bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (Social and Behavioral Sciences), yaitu Isti Fathirah dan Dinda Rezky Audia. Hasil ini menambah prestasi gemilang SMAN 1 Majene tahun ini setelah sebelumnya KSN, FLS2N, dan LDBI juga mencapai tingkat nasional.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Barat, Prof. Dr. Gufran Darma Dirawan, ST.,M.EMD memberikan apresiasi atas prestasi siswa SMAN 1 Majene yang telah mengharumkan nama Provinsi Sulawesi Barat di tingkat nasional dalam sesi acara tambahan pembukaan kegiatan Sosialisasi Asesmen Nasional di SMA Provinsi Sulawesi Barat yang dilaksanakan di Aula LPMP Sulbar.

Bahkan keduanya dijanjikan akan mendapatkan beasiswa untuk lanjut di perguruan tinggi. Dalam acara tambahan tersebut Kadisdikbud Sulbar juga memberikan apresiasi kepada Kepala SMAN 1 Majene, Muliadi, S, S.Pd.,MPd, Wakasek Kesiswaan, Kasman S.Pd.,M.Pd, dan Pembina KIR, Herlina, S.Pd., M.Pd.

Saat ini keduanya merupakan peserta didik kelas XII MIPA 3 dan juga aktif sebagai anggota Kelompok Ilmiah Remaja sekolah. Mereka mengajukan proposal dengan judul “Pelestarian Bahasa Mandar dengan Teknik Dubbing melalui Film “Miss Granny” hingga akhirnya menjadi sebuah karya ilmiah yang lolos sebagai finalis. LKIR merupakan ajang kompetisi ilmiah bagi siswa SMP dan SMA.

Kompetisi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan wawasan mereka dalam menganalisa permasalahan dalam mencari solusi yang tepat melalui penelitian ilmiah dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Ide judul proposal mereka muncul dari peristiwa yang terjadi di kehidupan sehari-hari remaja di SMA Negeri 1 Majene. Melihat dan mengamati hal-hal yang terjadi di sekitar ternyata banyak remaja yang minim mengenai kosakata dalam Bahasa Mandar. Terlebih lagi, minat remaja mengenai film berbahasa asing khususnya Bahasa Korea sangat tinggi. Sehingga mereka memutuskan untuk menjadikan film sebagai media pelestarian bahasa Mandar dengan teknik dubbing.

(muliadi)
sumber: dunia pendidikan
Editor: Andi Sahal

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed